Karya Tulis Ilmiah (Pengaruh Kurang Perhatian Orang Tua Terhadap Perkembangan Remaja)



Karya Tulis Ilmiah
Pengaruh Kurang Perhatian Orang Tua Terhadap Perkembangan Remaja

                                                                                      
BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Fase remaja adalah masa penuh gairah, semangat, energi, dan pergolakan, saat seorang remaja, tidak saja mengalami perubahan fisik tetapi juga psikis. Semua ini mengakibatkan perubahan status dari remaja-remaja menjadi remaja. Ada kebanggaan, karena sebagai remaja, status sosial mereka berubah, keberadaan atau eksistensi mereka harus selalu diperhitungkan. Tetapi, ada juga kebingungan, kegelisahan, kecanggungan, kegalauan, atau salah tingkah (teenage clumsinees) karena perubahan hormonal menyebabkan mereka mengalami pertarungan identitas.
Pertumbuhan fisik remaja, juga diikuti oleh perkembangan daya intelektual. Mereka mulai mengembangkan pola pikir sendiri, lepas dari orang tua mereka. Jika pada masa kremaja-kremaja pola pikir mereka adalah konkret. Pada masa remaja mereka mulai mengembangkan konsep berpikir abstrak, seperti kejujuran, loyalitas, atau keadilan. Kemampuan berpikir secara abstrak membuat dunia mereka menjadi tidak terbatas, mampu memahami perbedaan, dan mendorong mereka untuk menentukan pilihan mereka untuk menjadi apa kelak mereka di kemudian hari.
Selain itu, remaja umumnya sudah mampu memahami logika dan konsekuensi dari sebuah tindakan logis. Pola berpikir logis membuat mereka selalu menuntut alasan (reasoning) dibalik sebuah tindakan. Itulah sebabnya, para remaja seringkali diberi label sebagai kelompok yang suka menentang (argumentative). Seringkali remaja memandang orang tua mereka terlalu lamban, dan dalam banyak hal mereka lebih unggul ketimbang orang tua mereka. Meskipun tidak salah, namun pandangan ini juga tidak sepenuhnya benar. Kebanyakan orang tua terlambat menyadari kondisi dan jalan pikiran remaja remaja mereka sehingga menimbulkan konflik.
Para remaja juga seringkali mempertanyakan eksistensi orang tua mereka, Apakah mereka jujur sebagai orang tua? Apakah perkataan mereka dapat dipercaya? Apakah mereka memiliki moral dan nilai-nilai? Apakah tindakan mereka sesuai dengan ucapan mereka? pertanyaan-pertanyaan yang merupakan gugatan ini memerlukan jawaban yang jujur dari para orang tua. Jika orang tua tidak berani menjawab pertanyaan ini secara jujur, atau menganggapnya sebagai tantangan yang harus ditumpas, inilah awal konflik orang tua - remaja yang tidak akan ada ujung pangkalnya.
Tidak sedikit orang tua bingung menghadapi sikap remaja-remaja remaja mereka yang mulai berani melancarkan protes atau penentangan, terutama menentang otoritas orang tua yang mereka anggap membelenggu kemerdekaan mereka. Mereka menuntut dengan keras agar identitas dan eksistensi komunitasnya diakui. Di dalam keluarga, para remaja menuntut supaya pendapat, pikiran, gagasan, atau ide-ide mereka didengarkan dan dipertimbangkan ketika rumah tangga sebagai sebuah institusi membuat keputusan atau kebijakan. Mereka melakukan protes keras atau mengkritik dengan tajam kalau merasakan keadilan tidak berpihak kepada kelompok mereka.
Atas latar belakang tersebut saya tertarik untuk meneliti sejauh mana peran orang tua dalam perkembangan remaja. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik mengkaji dengan judul : Pengaruh Kurang Perhatian Orang Tua Terhadap Perkembangan Remaja 
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas sebagai berikut:
1.      Apa saja jenis perhatian orang tua?
2.      Bagaimana tahapan perkembangan remaja ?
3.      Bagaimana pentingnya perhatian orang tua terhadap perkembangan remaja?
4.      Bagaimana pengaruh kurang perhatian orang tua terhadap perkembangan remaja?


C.     Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang akan diperoleh melalui penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui jenis perhatian orang tua
2.      Untuk mengetahui tahapan perkembangan remaja
3.      Untuk mengetahui pentingnya perhatian orang tua terhadap perkembangan remaja
4.      Untuk mengetahui pengaruh  kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan remaja


D.    Manfaat Penulisan
1.      Bagi penulis: Untuk memenuhi tuga mata pelajaran KTI.
2.      Bagi pembaca: Mengetahui pengaruh kurang perhatiannya orang tua terhadap perkembangan remaja.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Pengertian Perhatian Orang Tua
a.      Pengertian Perhatian
Menurut Sumadi Suryabrata (1986:16) perhatian merupakan pemusatan tenaga psikis yang tertuju kepada suatu obyek. Sedangkan WS Winkel (1987:100) berpendapat, perhatian diartikan konsentrasi, yaitu pemusatan tenaga dan energi psikis dalam menghadapi suatu obyek. Seiring dengan pendapat kedua ahli tersebut ahli lain mengatakan, bahwa perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada sekumpulan obyek (Bimo Walgito, 1990:56).
Berdasar atas beberapa pendapat tersebut diatas, maka perhatian dapat disampaikan sebagai berikut.
1) Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada suatu obyek.
2) Perhatian merupakan aktivitas kesadaran.
Berdasarkan pengertian diatas, maka penulis menyimpulkan bahwa perhatian merupakan pemusatan tenaga psikis dan merupakan aktivitas kesadaran individu yang ditujukan kepada suatu obyek.
b.      Pengertian Orang Tua
Pengertian orang tua berdasar dari kamus Bahasa Indonesia adalah “ayah dan ibu kandung”. Pengertian orang tua juga meliputi orang tua yang menjadi ayah dan ibu seseorang yang berdasar adat atau hukum yang berlaku. Sedangkan orang tua asuh adalah orang yang membiayai remaja yang bukan remajanya sendiri atas dasar kemanusiaan (Depdikbud, 1988).

Orang tua yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah, ayah dan ibu kandung atau ayah dan ibu angkat atau ayah dan ibu tiri dimana remaja tinggal bersama dan dibiayai. Perhatian orang tua dapat pula diartikan sebagai pemusatan tenaga psikis dari aktivitas kesadaran ayah dan ibu yang ditujukan kepada remaja.


B.     Pengertian Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Berikut ini pengertian remaja menurut para ahli :
a.      Menurut Hurlock, 1992
Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik
b.      Menurut Calon (dalam Monks, dkk 1994)
Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status remaja.
c.       Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53)
Masa remaja adalah peralihan dari masa remaja dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa.
d.      Menurut Zakiah Darajat (1990: 23) 
Masa remaja adalah masa peralihan diantara masa kremaja-kremaja dan dewasa. Dalam masa ini remaja mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah remaja-remaja baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
e.       Menurut Santrock (2003: 26)
Masa remaja diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional.
Dari pengertian remaja yang dipaparkan oleh para ahli tersebut dapat diambil kesimpulanmasa remaja adalah masa peralihan dari masa remaja-remaja dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.




BAB III
PEMBAHASAN

A.     Jenis Perhatian Orang Tua
Melihat besarnya peran orang tua terhadap tumbuh-kembangnya remaja-remaja, maka jenis perhatian orang tua yang harus diberikan terhadap remaja adalah :
a.      Perhatian intensif, karena kegiatan yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih terarah.
b.      Perhatian yang disengaja (reflektif), karena kesengajaan dalam kegiatan akan mengembangkan pribadi remaja.
c.       Perhatian konsentratif, karena perhatian jenis ini akan selalu terfokus & berlangsung secara simultan.


B.     Tahapan Perkembangan Remaja
1.      Remaja Awal (11-13 Tahun)
a.      Perkembangan Fisik
Beberapa perkembangan fisik yang terjadi pada periode ini adalah pertumbuhan rambut pada beberapa area tubuh, meningkatnya produksi dan pengeluaran keringat serta minyak pada rambut dan kulit, kejadian ini biasa juga disebut dengan istilah tanda-tanda pubertas pada seseorang.
Pada remaja perempuan, payudara mulai mengalami pembesaran serta mulai mengalami menstruasi, sedangkan pada remaja laki-laki, alat kelamin mulai mengalami pertumbuhan, mimpi basah serta perubahan suara. Periode ini juga merupakan periode dimana berat badan dan tinggi badan mengalami perkembangan yang luar biasa.
b.      Perkembangan Kognitif
Pada tahapan ini, kemampuan berfikir mulai tumbuh dan pada umumnya sudah mulai berfikir tentang masa depan meskipun dalam taraf terbatas dan aspek moral selalu menjadi perhatian.
c.       Perkembangan Sosial-Emosional
Remaja pada tahapan ini mulai berusaha menunjukkan identitas dirinya,  muncul perasaan canggung  saat bertemu dengan seseorang, konflik dengan orang tua meningkat, pengaruh teman sebaya sangat besar, memiliki perasaan bebas dan tidak mau diatur, memiliki kecenderungan berperilaku kekremaja-kremajaan khususnya jika mereka mengalami stress, sifat moodi meningkat, ketertarikan kepada lawan jenis juga meningkat.
2.      Remaja Pertengahan (14-18 Tahun)
a.      Perkembangan Fisik
Pertumbuhan pubertas pada tahapan ini sudah sempurna, disisi lain pertumbuhan fisik pada perempuan mulai melambat akan tetapi pada remaja laki-laki terus berlanjut.
b.      Perkembangan Kognitif
Kemampuan berfikir terus meningkat, sudah mulai mampu menetapkan sebuah tujuan, tertarik pada hal-hal yang lebih rasional dan mulai berfikir tentang makna sebuah kehidupan
c.       Perkembangan Sosial-Emosional
Pada periode ini, remaja mulai melibatkan diri secara intens dalam sebuah kegiatan yang ia senangi, mengalami perubahan dari harapan yang tinggi tetapi dengan konsep diri yang kurang. Body Image terus berlanjut, kecenderungan untuk jauh dari orang tua semakin meningkat dan semakin ingin bebas dari orang tua, pengaruh teman sebaya juga masih sangat kuat, issu popularitas bisa mejadi sangat penting dalam periode ini, perasaan cinta dan gairah pada lawan jenis semakin meningkat.
3.      Remaja Akhir (19-24 Tahun)
a.      Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik pada remaja putri biasanya sudah mencapai pada puncaknya atau sudah sempurna, sedangkan pada remaja putra, masih terus berlanjut khususnya pada peningkatan berat, tinggi, massa otot dan rambut pada tubuh.
b.      Perkembangan Kognitif
Mereka sudah mulai memiliki kemampuan untuk memikirkan sebuah ide mulai dari awal sampai akhir, kemampuan untuk menunda kepuasan atau kegembiraan, mulai peduli pada masa depan dan berpikir rasional.
c.       Perkembangan Sosial-Emosional
Identitas diri semakin kuat, termasuk identitas seksual, stabilitas emosi dan kepedulian terhadap orang lain semakin meningkat, semakin mandiri, hubungan antar teman sebaya tetap menjadi issu yang penting dan hubungan dengan lawan jenis semakin serius.


C.     Pentingnya Perhatian Orang Tua Terhadap Perkembangan Remaja
Bagi seorang remaja, perhatian dari orang tua, memiliki arti yang sangat penting. Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika remaja kurang mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan akan timbul kekecewaan dan putus asa.
 Sekecil apapun perhatian orang tua terhadap remaja, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski hanya dalam bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji sikap baiknya, menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, sesekali menemaninya beraktivitas.
Kedekatan secara psikologis akan terjalin dengan berbagai aktivitas tersebut. Remaja akan merasa nyaman, jiwa nya stabil, dan emosinya terkendali. Semua ini merupakan modal yang sangat penting bagi kehidupan remaja di masa yang akan datang. Dalam bergaul di tengah masyarakat kelak, di dalam menghadapi berbagai tugas di tempat kerjanya dan dalam menyelesaikan seluruh persoalan, kestabilan jiwa, pengendalian emosi dan perasaan yang nyaman akan sangat dibutuhkan.
Sebagai orang tua terdapat tiga hal yang harus diarahkan ketika berhubungan dengan fase masa remaja. Tiga hal tersebut antara lain: penerimaan, batasan, dan karakter/ sifat.
·         Penerimaan adalah bahwa remaja-remaja yang sudah beranjak dewasa sangat membutuhkan approval atau persetujuan. Ketika remaja berusia 13 tahun, mereka akan sering mendengar pendapat yang disampaikan oleh orang lain selain orang tuanya. Jika fase ini remaja kita tidak mendapatkan perhatian yang penuh dari orang tua, mereka tidak akan lagi mendengarkan arahan orang tua. Bahkan mereka akan lebih memilih mendengarkan opini orang lain yang belum tentu benar adanya.
·         Batasan/ boundaries’ dimana sang remaja menginginkan bahwa orang tua terlibat dalam kehidupan mereka yang sudah mulai menemukan lingkungan yang bervariasi. Mungkin seringnya orang tua menemukan bahwa sebagain besar remaja sepertinya tidak membutuhkan perhatian dari orang tua, namun sebenarnya mereka sangat membutuhkan perhatian orang tua. Mereka membutuhkan inspeksi dari orang tuanya dan mereka juga membutuhkan batasan dari orang tuanya. Mereka mengharapkan bahwa orang tuanya berada di tengah batasan yang sudah diciptakan untuk remaja remajanya.
·         Membantu pembentukan karakter/ sifat sang remaja pada usia remaja. Remaja usia remaja memerlukan pengetahuan tentang bagaimana membuat pilihan yang benar dan tepat dan bagaimana untuk bisa tetap kuat di tengah-tengah tekanan. Dalam pembentukan karakter remaja, peran orang tua sangat penting. Sebagai contoh gambaran seorang ibu yang menurutnya sangat menyayanginya, selalu memberi perhatian penuh dan pengertian serta bisa menjadi sebagai seorang sahabat yang bisa di ajak curhat akan melekat pada diri seorang remaja, sehingga gambaran mengenai ibunya tersebut akan menjadi landasan dan menjadi cerimin bagi diri remaja dalam mengarungi hari-harinya. Maka curahkanlah segala bentuk perhatian dan rasa kasih sayang kepada remaja hingga sang remaja betul-betul merasakannya dan jadilah sahabat setia yang senantiasa selalu hadir tatkala remaja membutuhkannya. Hal ini bisa menjadi benteng positif bagi remaja ketika mendapati pengaruh-pengaruh jelek dari lingkungan luar. Remaja akan selalu menghargai dan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh orang tua, karena memang dirinya merasakan dan meyakini bahwa orang tua mereka menyayanginya dan petunjuk serta nasihat orang tua akan dianggap sebagai solusi terbaik bagi diri si remaja.


D.    Pengaruh Kurang  Perhatian Orang Tua Terhadap Perkembangan Remaja
Hubungan Remaja dan orang tua serta peran orang tua dalam perkembangan sampai masa remaja sangat penting. Menurut Newman (dalam Rice,1999), remaja menginginkan orang tua yang menaruh perhatian dan siap membantu apabila remaja membutuhkan bantuan serta mendengarkan dan berusaha mengerti sebagai remaja; menunjukan bahwa mereka menyetujui remaja ; menerima apa adanya; memperlakukan sang remaja dengan dewasa dan yang paling penting menjadi teladan baik bagi remaja.
Dalam setiap keluarga ada nilai-nilai atau aturan yang harus dipegang atau ditaati oleh setiap anggota keluarga termasuk remaja remaja itu sendiri. Namun bila setiap aturan tidak disampaikan dengan baik maka akan terjadi pelanggaran-pelanggaran. Dalam komunikasi itulah setiap aturan atau nilai-nilai keluarga disampaikan. Keluarga yang memiliki kekurangdekatan hubungan antar anggota keluarga, hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga, akan sangat sulit membicarakan hal ini dalam keluarga dan memungkinan timbulnya delikuensi pada remaja. Adapaun dampak kurangnya perhatian orang tua terhadap remaja antara lain :
1.      Munculnya Berbagai Peristiwa Kejahatan Yang Dilakukan Oleh Remaja
Munculnya berbagai peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh remaja, yang membuat kita prihatin, adalah menjadi salah satu indikator adanya sesuatu yang kurang beres dalam interaksi orang tua dengan remaja. . Miris mendengarnya, ketika masih dalam suasana peringatan hari remaja nasional tanggal 23 juli, di Depok, seorang remaja umur 14 tahun , melakukan pembunuhan terhadap 2 orang ( Bapak dan remaja), dengan dalih masalah ekonomi, dia diiming-imingi motor oleh orang yang menyuruhnya untuk melakukan pembunuhan. Sering juga kita mendengar, kasus –kasus tawuran pelajar antar sekolah, yang terjadi di berbagai daerah.
Kasus-kasus seperti ini, muncul karena remaja tidak mendapatkan kehangatan jiwa, emosi yang labil mudah tersulut dan perasaan yang tidak nyaman dalam keluarga dan sekelilingnya. Meski benar bahwa lingkungan akan mempengaruhi perilaku seorang remaja, tapi mremajaala nilai-nilai dalam keluarganya kokoh, lingkungan tidak akan memberikan pengaruh besar. Remaja punya imunitas kuat dari pendidikan orang tua di dalam keluarga.

2.      Remaja Malas Berkomunikasi Dengan Orang Tua
Kurangnya komunikasi antara orang tua dan remaja remaja bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti orang tua yang sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak ada waktu bagi remaja untuk berbicara, atau orang tua yang harus tinggal di luar kota,luar negri untuk waktu yang lama oleh karena tugas dan pekerjaan kantor. Beberapa alasan kenapa komunikasi remaja dengan orang tua menjadi kurang, diantaranya:
a.      Orang tua kurang mendengarkan ide remaja.
Pada usia remaja, banyak sekali ide-ide dari remaja remaja tentang kehidupannya. Bisa tentang hobbinya, teman-temannya, sekolahnya dan lain sebagainya. Orang tua tidak menerima pendapat remaja, bahkan tidak berusaha mengerti perasaan mereka dari sudut pandang si remaja. Ketika remaja remaja mengungkapkan keinginan mereka, maksudnya adalah ada keinginan dari remaja untuk berbicang-bincang dengan orang tua dan meminta mereka mendengarkan dengan simpatik, namun orangtua tidak mau mendengarkan.
b.      Hubungan dengan teman-teman sebaya
Seiring dengan bertambahnya usia bertambah pula rasa keingintahuan dari remaja remaja tentang segala hal. Biasanya mereka lebih sering banyak bertanya kepada teman-teman sebaya. Dengan seringnya komunikasi dengan teman-teman sebaya, perlahan demi perlahan komunikasi remaja dengan orang tua akan berkurang sehingga remaja remaja akan lebih terbuka dengan teman daripada dengan orang tua.
c.       Orang tua tidak mendapatkan kepercayaan dari remaja
Banyak orang tua yang sama sekali tidak sensitive terhadap perasaan dan suasana dalam hati remaja remaja mereka (mood). Mereka tidak menyadari apa yang dipikirkan dan dirasakan remaja remajanya. Orang tua berbuat sesuatu buat remaja mereka tanpa memperhitungkan pikiran dan perasaan remaja sehingga remaja tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik. Ketika tidak bisa menyampaikan perasaannya kepada orang tua, maka remaja akan kehilangan rasa kepercayaannya kepada orang tua.
d.      Tidak adanya afeksi
Afeksi meliputi emosi atau perasaan yang ada antara anggota keluarga, bisa bersifat positif atau negatif. Afeksi positif antara anggota keluarga menunjukan hubungan-hubungan yang bersifat kehangatan emosional, afeksi, kasih sayang, dan sensitifitas. Anggota keluarga memperlihatkan mereka saling mengasihi satu sama lainnya. Afeksi negatif ditandai oleh emosi yang dingin, penolakan, dan rasa permusuhan. Anggota keluarga seperti tidak mengasihi mengasihi satu sama lain, seperti acuh tak acuh sama lain terhadap perasaan dan kebutuhan anggota keluarga lainnya
e.       Ingin melepaskan diri
Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari pengasuhan orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Erikson menamakan proses tersebut sebagai proses mencari identitas ego. Maksudnya adalah remaja berusaha membuat pembentukan identitas, yaitu berusaha menjadi individualitas yang mantap, dan bisa berdiri sendiri.
Jadi bisa disimpulkan bahwa penyebab komunikasi yang kurang antara orang tua bisa disebabkan oleh perilaku remaja remaja itu sendiri maupun akibat pola asuh dari orang tua.

3.      Timbulnya Kenakalan Remaja
Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja/remaja yang dibesarkan dalam lingkungan sosial keluarga yang tidak baik atau disharmoni keluarga, maka resiko remaja untuk mengalami gangguan kepribadian menjadi berkepribadian antisosial dan berperilaku menyimpang lebih besar dibandingkan dengan remaja yang dibesarkan dalam keluarga sehat atau harmonis .
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas remaja, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Penelitian yang dilakukan oleh Gerald Patterson dan rekan-rekannya ( 1996) menunjukkan bahwa pengawasan orangtua yang tidakmemadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin  yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga  yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Faktor genetik juga termasuk pemicu timbulnya kenakalan remaja, meskipun persentasenya tidak begitu besar.



BAB IV
PENUTUP


A.     Kesimpulan
·         Jenis perhatian orang tua yang harus diberikan terhadap remaja adalah :perhatian intensif, Perhatian yang disengaja (reflektif), dan perhatian konsentratif
·         Tahapan perkembangan remaja ada tiga tahap yaitu : remaja awal (11-13 tahun), remaja pertengahan (14-18 tahun), dan remaja akhir (19-24 tahun)
·         Pentingnya perhatian orang tua terhadap perkembangan remaja yaitu perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika remaja kurang mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan akan timbul kekecewaan dan putus asa.
·         Dampak kurangnya perhatian orang tua terhadap remaja munculnya berbagai peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh remaja, remaja malas berkomunikasi dengan orang tua, dan timbulnya kenakalan remaja
·         Yang perlu diingat oleh kedua orang tua adalah jika seorang remaja atau remaja kurang mendapatkan perhatian dari orang tua, besar kemungkinan dia akan menjadi seorang remaja dan remaja yang temperamental.


B.     Saran
·         Pada masa remaja, remaja lebih mendengarkan perkataan temannya daripada orangtua. Namun, kondisi ini bisa dieliminir, jika sejak kecil remaja dibiasakan untuk mengisi waktu dengan hal-hal yang berguna.  
·         Setiap remaja perlu tahu kalau mereka disayangi dan dicintai orang tua dengan sepenuh hati.
·         Terkadang orang tua sering lupa untuk berinteraksi dengan remaja-remajanya. Padahal seorang remaja tidak hanya membutuhkan materi namun juga perhatian dan interaksi dengan orangtuanya.
·         Komunikasi adalah kunci yang membuka hubungan harmonis antara orang tua dengan remaja. Keluarga harus memiliki waktu cukup lama untuk berbincang-bincang dan mengembangkan keterbukaan antara orang tua dan remaja.



DAFTAR PUSTAKA

http://belajarpsikologi.com/pengertian-remaja/
http://drremaja.blogspot.com/2012/06/inilah-tahapan-perkembangan-remaja
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/copywriting/2251730-pengertian-perhatian-orang-tua/
http://www.orangtua.org/2012/02/06/3-jenis-perhatian-untuk-remaja-anda/
http://www.dakwatuna.com/2012/08/22086/pentingnya-perhatian-terhadap-remaja/
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-remaja/2011/10/29/alasan-remaja-malas-berkomunikasi-dengan-orang-tua/
http://bidanku.com/index.php?/tips-membimbing-remaja-yang-beranjak-remaja
http://pkbmberlian.wordpress.com/tag/perkembangan-remaja/
http://nugococom030108.blogspot.com/2012/06/kenakalan-remaja

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment