5 PENGUSAHA SUKSES (Dalam & Luar Negeri)


Pengusaha



1.     Soedono Salim
Sudono salim
Dia merupakan salah satu konglomerat dan pengusaha sukses asal Indonesia. Ia sempat menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia. 

Perjalanan suksesnya dimulai di sebuah pelabuhan kecil. Fukien di bilangan Selatan Benua Tiongkok. Dia dilahirkan di situ pada pada tanggal 19 tahun 1916.
Kakaknya yang tertua Liem Sioe Hie sejak tahun 1922 telah lebih dulu beremigrasi ke Indonesia yang waktu itu masih jajahan Belanda kerja di sebuah perusahaan pamannya di kota Kudus. 

Pada tahun 1939, Liem Sioe Liong mengikuti jejak abangnya yang tertua. Dari Fukien, ia Berangkat ke Amoy, dimana bersandar sebuah kapal dagang Belanda yang membawanya menyeberangi Laut Tiongkok. 

Sebulan untuk kemudian sampai di Indonesia. Sejak dulu, kota Kudus sudah terkenal sebagai pusat pabrik rokok kretek, yang sangat banyak membutuhkan bahan baku tembakau dan cengkeh. 

Liem Sioe Liong sudah terlatih menjadi supplier cengkeh, dengan jalan menyelundupkan bahan baku tersebut dari Maluku, Sumatera, Sulawesi Utara melalui Singapura untuk kemudian melalui jalur-jalur khusus penyelundupan menuju Kudus. 

Sehingga tidak heran dagang cengkeh merupakan salah satu pilar utama bisnis Liem Sioe Liong pertama sekali, disamping sektor tekstil. Dia juga mengimpor produksi pabrik tekstil murahan dari Shanghai.

Seirama dengan masa pemerintahan dan pembangunan Orde Baru, bisnisnya pun berkembang demikian pesat. 

Pada tahun 1969, Om Liem bersama Sudwikatmono, Djuhar Sutanto dan Ibrahim Risjad, yang belakangan disebut sebagai The Gang of Four, mendirikan CV Waringin Kentjana. Om Liem sebagai chairman dan Sudwikatmono sebagai CEO. 

The Gang of Four ini kemudian tahun 1970 mendirikan pabrik tepung terigu PT Bogasari dengan modal pinjaman dari pemerintah. 

Bogasari yang memonopoli suplai tepung terigu untuk Indonesia bagian Barat, yang meliputi sekitar 2/3 penduduk Indonesia, di samping PT. Prima untuk Indonesia bagian Timur. 

Kemudian tahun 1975 kelompok ini mendirikan pabrik semen PT Indocement Tunggal Perkasa. Pabrik ini melejit bahkan nyaris memonopoli semen di Indonesia. Sehingga kelompok ini sempat digelari Tycoon of Cement.

Setelah itu, The Gang of Four ditambah Ciputra mendirikan perusahaan real estate PT Metropolitan Development, yang membangun perumahan mewah Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai. 

Selain itu, Om Liem juga mendirikan kerajaan bisnis bidang otomotif di bawah bendera PT Indomobil.

Bahkan merambah ke bidang perbankan dengan mendirikan Bank Central Asia (BCA) bersama Mochtar Riyadi. 

Di tahun 1970-an. Bank Central Asia ini telah bertumbuh menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia dengan total asset sebesar US$ 99 juta. 

Belakangan Mochtar Riady membangun Lippo Bank. Ketika itu, Om Liem pernah jadi orang terkaya di Indonesia dan Asia. 

Sudono Salim atau Liem Sioe Liong meninggal dunia dalam usia 96 tahun. Berdasarkan informasi yang beredar, pengusaha kakap itu wafat di Singapura pada tanggal 10 Juni 2012.


2.     Bong Chandra
bong chandra
 Pria kelahiran Jakarta 25 Oktober 1987 ini lahir dengan banyak kekurangan. Selain memiliki penyakit asma, Bong juga terlahir dengan tubuh yang kecil.

Tidak hanya itu, ketika berumur 4 tahun ia didiagnosa memiliki kelainan paru-paru. Kekurangan inilah yang membuat masa kecil Bong Chandra terasa suram karena rasa minder dan tidak percaya diri.

Hingga pada tahun 1998 terjadi krisis moneter yang membuat usaha keluarganya bangkrut. Sungguh miris memang keadaannya saat itu, dengan tidak memiliki kompetensi sama sekali di bidang apa pun, kebangkrutan malah melanda keluarganya. 

Bahkan saking sayangnya orangtua Bong terhadapnya, mereka rela berhutang puluhan juta rupiah untuk membiayai kuliahnya.

Keadaan inilah yang memaksa Bong menjadi anak yang lebih kuat dan tangguh dibandingkan anak seusianya. 

Sejak saat itu ia sadar, makin termotivasi, dan bertekad ingin mengubah hidupnya. Pada usia 18 tahun, ia mulai membuka usaha bersama temannya. 

Hinaan, cemooh, dan berbagai penolakan yang diterimanya tak lantas membuatnya patah arang, malah sebaliknya ia merasa lebih tertantang dan ingin membuktikan kepada mereka yang meragukannya bahwa ia layak menjadi pengusaha sukses. 

Dalam hati Bong berkata “Sesungguhnya engkau telah melempar kayu ke dalam bara api yang menyala-nyala”.

Kini Bong Chandra telah mengukir prestasi yang luar biasa dan sangat tidak biasa untuk anak muda seusianya. Memimpin 3 perusahaan yaitu PT. Perintis Trinity Property, PT. Bong Chandra Success System, dan PT. Free Car Wash Indonesia,  dengan membawahi 150 staff karyawan. 

Selain bergelut dalam dunia property, dia juga sukses menjadi motivator termuda di Asia hingga saat ini. 

Pada tahun 2009, ia bahkan diundang untuk memberi motivasi di Perusaahan Terbesar Dunia (versi Fortune 500), dan di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia. 

Lewat seminar-seminarnya inilah ia membagi ilmunya dan membantu jutaan orang untuk meraih kesuksesannya. Baginya, jalan tercepat untuk sukses adalah dengan membantu orang lain menjadi sukses.


3.     Sir Richard Charles Nicholas Branson
Sir Richard Charles Nicholas Branson
Sir Richard Charles Nicholas Branson lahir 18 Juli 1950, di Surrey, Inggris. Ayahnya, Edward James Branson, bekerja sebagai pengacara. Ibunya, Eve Branson, bekerja sebagai pramugari. 

Richard, yang berjuang dengan disleksia, mengalami kesulitan dengan lembaga pendidikan. Ia hampir gagal lulus dari the all-boys Scaitcliffe School, disana Ia bersekolah sampai usia 13. 

Dia kemudian dipindahkan ke Stowe School, sebuah sekolah asrama di Stowe, Buckinghamshire, Inggris. Branson drop out pada usia 16 untuk memulai sebuah majalah budaya remaja bernama Student. 

Publikasi, yang dijalankan oleh siswa, untuk siswa, dalam edisi pertamanya berhasil memperoleh iklan senilai $ 8.000, yang diluncurkan pada tahun 1966.

 Penerbitan pertama dari 50.000 eksemplar disebarluaskan secara gratis, setelah Branson menutupi biaya dengan iklan.

Branson memperluas upaya kewirausahaannya lagi, seperti perusahaan perjalanan the Voyager Group pada tahun 1980, perusahaan penerbangan Virgin Atlantic pada 1984, dan serangkaian Virgin Megastore. 

Tetapi keberhasilan Branson tidak selalu dapat diprediksi. Pada tahun 1992, Virgin tiba-tiba berjuang untuk tetap bertahan secara finansial. Perusahaan ini dijual akhir tahun itu kepada THORN EMI sebesar $ 1 miliar. 

Branson Virgin Group kini memiliki lebih dari 200 perusahaan di lebih dari 30 negara termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, Kanada, Asia, Eropa dan Afrika Selatan.

Dia telah memperluas bisnisnya  dalam berbagai bidang seperti perusahaan kereta api, perusahaan ponsel, dan perusahaan pariwisata ruang angkasa, Virgin Galactic.

Branson juga dikenal karena prestasi olahraganya, terutama memecahkan rekor melintasi Atlantik dalam lomba Virgin Atlantic Challenger II tahun 1986, dan yang pertama melintasi Atlantik  (1987) dan Pasifik (1991) dengan balon udara. 

Dia diberi gelar Knight pada tahun 1999 atas kontribusinya dalam berwirausaha, dan pada 2009 ia terdaftar di no 261 dalam daftar Forbes World Billionaires dengan kekayaan $ 2,5 milyar, termasuk dua pulau pribadinya


4.     Chairul Tanjung
Chairul Tanjung
Chairul lahir di Jakarta pada tanggal 16 Juni 1962.  dalam keluarga yang cukup berada. Ayahnya A.G. Tanjung adalah wartawan zaman orde lama di sebuah surat kabar kecil. Chairul berada dalam keluarga bersama enam saudara lainnya.

Ketika Tiba di zaman Orde Baru, usaha ayahnya dipaksa tutup karena tulisannya dianggap berbahaya dan berseberangan secara politik dengan penguasa saat itu. Keadaan tersebut memaksa orangtuanya menjual rumah dan berpindah tinggal di kamar losmen yang sempit.

Setelah lulus dari SMA Boedi Oetomo pada tahun 1981, Chairul melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia (fakultas kedokteran gigi). 

Naluri pengusaha mulai muncul dalam dirinya saat ia menjadi Mahasiswa, untuk membiayai kuliahnya yang cukup besar dia berjualan buku kuliah stensilan dan kaos selain itu Ia juga pernah membuka usaha foto kopi dikampus.

Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta Pusat, tetapi usahanya ini tidak berhasil.  

Ketika kuliah dia dikenal sebagai murid yang sangat baik hal ini terbukti saat ia mendapat penghargaan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional periode 1984-1985.

Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia, Chairul bersama tiga rekannya  mendirikan PT Pariarti Shindutama (perusahaan yang kegiatannya memproduksi sepatu anak-anak untuk ekspor), pada tahun 1987. 
 
Karena Kerja keras yang luar biasa perusahaan tersebut mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia. 

Akan tetapi, karena ada masalah internal dalam perusahaan (perbedaan visi tentang ekspansi usaha), Chairulpun memilih pisah dan mendirikan usaha sendiri.

Kemudian ia pun mendirikan sebuah kelompok perusahaan dengan nama Para Group. 

Perusahaan Konglomerasi ini mempunyai Para Inti Holdindo sebagai fatherholding company, yang membawahkan beberapa sub-holding, yakni Para Global Investindo (bisnis keuangan), Para Inti Investindo(media dan investasi) dan Para Inti Propertindo (properti).
Pada tanggal 1 Desember 2011, Chairul Tanjung meresmikan perubahan Para Grup menjadi CT Corp. 

CT Corp terdiri dari tiga perusahaan sub holding: Mega Corp, Trans Corp, dan CT Global Resources yang meliputi layanan finansial, media, ritel, gaya hidup, hiburan, dan sumber daya alam.


5.     Akio Morita
Akio Morita
Dari usia dini, Akio gemar mengutak-atik peralatan elektronik, dan matematika dan fisika adalah mata pelajaran kesukaannya selama SD dan SMP hari. Setelah lulus dari Sekolah Tinggi, ia memasuki Departemen Fisika di Osaka Imperial University.

 Selama waktu itu, Jepang berada di tengah-tengah Perang Pasifik. Pada tahun 1944, Akio, yang telah menjadi letnan Angkatan Laut setelah lulus dari universitas tahun itu, bertemu dengan Masaru Ibuka dalam Angkatan Laut Wartime Research Committee.

Ketika ia kembali ke rumah keluarga di Nagoya setelah perang, Morita diundang untuk bergabung dengan fakultas Tokyo Institute of Technology oleh salah satu profesor. 

Morita mengemasi barang-barangnya dan bersiap-siap berangkat ke Tokyo, ketika sebuah artikel tentang laboratorium penelitian didirikan oleh Ibuka muncul di sebuah kolom surat kabar Asahi disebut, "Blue Pensil."

Dengan berakhirnya perang, Ibuka telah mendirikan Institut Penelitian Telekomunikasi Tokyo untuk memulai sebuah awal yang baru. 

Setelah membaca artikel ini, Morita mengunjungi Ibuka di Tokyo dan mereka memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan baru bersama-sama.

Pada tanggal 7 Mei 1946, Ibuka dan Morita mendirikan Tokyo Tsushin Kogyo KK (Tokyo Telecommunications Engineering Corporation) dengan sekitar 20 karyawan dan modal awal 190.000 ¥. Pada waktu itu, Ibuka telah berumur 38 tahun dan Morita 25 tahun.

Selama kemitraan mereka yang panjang, mengabdikan Ibuka teknologi energi untuk penelitian dan pengembangan produk, sementara Morita berperan penting dalam memimpin Sony dalam bidang pemasaran, globalisasi, keuangan dan sumber daya manusia. 

Morita juga mempelopori Sony masuk ke dalam bisnis perangkat lunak, dan ia memberikan kontribusi kepada keseluruhan manajemen perusahaan.

Pada tahun 1960, Sony Corporation of America didirikan di Amerika Serikat. Morita memutuskan untuk pindah ke AS bersama keluarganya dan memimpin dalam menciptakan saluran penjualan baru untuk perusahaan. 

Dia percaya bahwa Sony harus mengembangkan saluran penjualan langsung sendiri, bukan mengandalkan dealer lokal. Banyak produk yang telah diluncurkan sepanjang sejarah Sony dapat dikreditkan untuk Morita kreativitas dan ide-ide inovatif. 

Ide-idenya melahirkan benar-benar baru gaya hidup dan budaya, dan ini terbukti dari produk-produk tersebut sebagai Walkman dan perekam kaset video.

Selain mengelola Sony, Morita aktif dalam membangun jembatan budaya antara Jepang dan di luar negeri sebagai Wakil Ketua Keidanren (Jepang Federasi Organisasi Ekonomi) dan sebagai anggota dari Jepang-AS Hubungan Ekonomi Group, lebih dikenal sebagai "Wise Men's Group . 

Ia berperan dalam berusaha untuk mengurangi friksi perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat, dan melalui publikasi karya sastra tersebut sebagai Made in Japan, ia menjadi, "salah satu yang paling terkenal di Amerika Serikat jepang"

Penghargaan Morita yang pertama diberikan Jepang Albert Medal dari Kerajaan Inggris's Royal Society of Arts pada tahun 1982. 

Pada 1984, ia menerima Ordo Nasional Legiun Kehormatan (Ordre National de la L├ęgion d'Honneur), yang tertinggi dan paling bergengsi di Prancis, dan pada tahun 1991, ia dianugerahi First Class Order of the Sacred Treasure dari HM yang Kaisar Jepang. 

Di samping itu, Morita menerima sejumlah penghargaan dari negara-negara seperti Austria, Belgia, Brasil, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Amerika Serikat, yang menunjukkan sejauh mana pengakuan global-nya.


Dari Berbagai Sumber

Artikel Terkait

No comments:

Post a Comment