Hewan Khas Jawa Timur : Ayam Bekisar (Gallus varius)

ayam bekisar

Ayam Hutan Hijau di beberapa daerah di Indonesia disebut sebagai:
1)   Canghegar atau Cangehgar (Sunda)
2)   Ayam Alas (Jawa)
3)   Ajem Allas atau Tarattah (Madura)
Beberapa penyebutan nama ini memang sama dengan penyebutan untuk Ayam Hutan Merah.
Dalam bahasa Inggris Ayam Hutan Hijau disebut sebagai :
1)   Green Junglefow
2)   Javan Junglefowl
3)   Forktail
4)   Green Javanese Junglefowl
Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah), ayam ini dinamai Gallus varius.
Dari hasil persilangan antara Ayam Kampung dengan Ayam Hutan Hijau inilah dihasilkan Ayam Bekisar yang mempunya bulu indah sekaligus kokok (suara) yang khas.
Namun sekarang banyak percobaan persilangan antara ayam hutan hijau jantan dan betina dari jenis jenis ayam yang berbeda sehingga dihasilkan ayam bekisar yang unik.
Ada dua cara yang dapat dilakukan, yakni secara tradisional dan secara inseminasi buatan (IB).
Kedua cara mengawinkan ayam hutan jantan dan ayam betina kampung tersebut didasarkan pada perlakuan sebelum terjadinya proses perkawinan.
Pemilihan calon induk (ayam hutan jantan dan betina ayam kampung) dipandang sebagai tahap awal yang penting sebelum melakukan persilangan
Agar dapat menghasilkan ayam Bekisar yang bermutu.
Oleh karena tujuan persilangan adalah untuk memperoleh ayam Bekisar dengan suara yang merdu, berpenampilan baik dan warna bulu yang indah
Maka seleksi calon induk biasanya didasarkan kepada beberapa kriteria tersebut.  Ayam hutan jantan yang dipilih sangat lebih baik jika telah jinak sehingga memudahkan dalam penanganan.
Telah dewasa (berumur satu sampai tiga tahun) dan pemberani. 
Hendaknya ayam ini memiliki suara yang bagus (kokok yang keras, bersih dan melengking panjang), rajin berkokok, bertubuh besar dan sehat, jengger tebal, lebar dan tegak, bergerigi dan berwarna merah.
Induk betina ayam kampung juga menentukan mutu Bekisar yang akan dihasilkan. Seleksi pada ayam betina kampung dapat dilakukan dengan memperhatikan bentuk fisik (besarnya tidak melebihi ayam hutan jantan), berbulu tebal, koteknya keras dan panjang (diharapkan perpaduan dengan kokok ayam hutan jantan akan menghasilkan Bekisar bersuara bagus pula).
Untuk sifat kualitatif karena pada umumnya diatur oleh beberapa gen maka lebih mudah untuk dipilih
Sehingga dapat menghasilkan sifat tertentu yang diinginkan itu muncul pada Bekisar. Sifat kualitatif yang dapat dipilih untuk lebih meningkatkan penampilan Bekisar antara lain bentuk jengger, warna bulu, warna kulit, shank berbulu.
Perilaku pewarisan sifat-sifat tersebut telah diketahui.
Bentuk jengger ros dan pea dominan terhadap jengger tunggal
Sehingga bila ingin membentuk Bekisar dengan jengger tunggal
Dipilih induk dengan jengger tunggal karena ayam hutan jantan sudah memiliki sifat jengger tunggal.
Sifat warna bulu putih dominan terhadap bulu berwarna
Sedangkan bulu berwarna dominan terhadap putih resesif dan bulu hitam dominan terhadap bulu merah.
Sifat shank berbulu dominan terhadap shank tidak berbulu.
Permintaan ayam Bekisar di masa mendatang diduga akan semakin meningkat yang akan diringi meningkatnya eksploitasi terhadap ayam hutan.
Keadaan ini dan juga perusakan hutan yang merupakan habitat ayam hutan yang sangat cepat berpotensi menyebabkan punahnya ayam hutan
Oleh karena itu upaya pelestarian perlu untuk dilakukan.
Dari segi bisnis bagi para penghobi ayam kesayangan ini sangatlah menguntungkan :
1)   Dari anakan tetasan umur 2-3 minggu sudah dihargai dengan 100.000-500.000
2)   Umur 4 minggu-3 bulan sudah dihargai dengan 250.000-1.000.000
3)   Umur 4 bulan-6 bulan  sudah dihargai dengan 400.000-2.000.000
Dan anakan juara dihargai dengan nilai yang tak terbatas tergantung kualitas indukan.
Untuk memperbesar prosentase proses penetasan telur bisa menggunakan mesin penetas telur/inkubator 
Ayam Bekisar sendiri merupakan fauna identitas provinsi Jawa Timur.
Jenis ayam bekisar ada tiga, yaitu :
1.    Gallus aenus yang berjengger bergerigi delapan kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas berwarna ungu dengan plisir kuning emas.
2.    Gallus temmainickii memiliki jengger bergerigi enam, pial berwarna jambu,mempunyai warna  bulu yang berwarna  merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan.
3.    Galus violaceus dengan jengger bergerigi bagus, mempunyai pial dengan ukuran sedang , warna bulunya ungu dengan permukaan yang halus.

A.  Klasifikasi Ilmiah Ayam Bekisar
Adapun klasifikasi ilmiah ayam bekisar sebagai berikut ini :
Kerajaan    : Animalia
Filum                   : Chordata
Kelas                   : Aves
Ordo           : Galliformes
Famili                   : Phasianidae
Genus                 Gallus
Spesies               Gallus varius.

B.  Ciri-Ciri Ayam Bekisar
Adapun ciri-ciri ayam bekisar sebagai berikut ini :
Ayam Hutan Hijau (Gallus varius) merupakan anggota kelas burung (Aves) yang berukuran besar.
Panjang tubuhnya dari kepala ke ekor mencapai 60 cm (jantan) dan 42 cm (betina).
Jengger pada ayam jantan tidak bergerigi, melainkan membulat tepinya berwarna merah dengan warna kebiruan di tengahnya.
Bulu-bulu pada leher, tengkuk dan mantel berwarna hijau berkilau dengan tepian kehitaman, nampak seperti sisik ikan.
Bulu-bulu pinggul panjang meruncing berwarna kuning keemasan dengan bagian tengah berwarna hitam.
Bulu pada sisi bawah tubuh mempunyai warna hitam, dan ekor hitam berkilau kehijauan.
Ayam Hutan Hijau betina mempunyai ukuran yang lebih kecil dibanding ayam jantan
Dengan didominasi bulu yang berwarna kuning kecoklatan dengan garis-garis dan bintik hitam.
Berdasarkan keindahan bulunya ayam bekisar dibagi menjadi 4 macam, antara lain :
1.   Ayam bekisar Putih (yogyakarta), berwarna putih mulai dari paruh, hingga telapak kaki kecuali jengger, pial, dan cuping berwarna merah.
2.     Ayam bekisar Multiwarna (solo), kaya akan warna dan suaranya sangat nyaring dengan ujung suara meninggi, ukuran tubuh sedang. Ayam bekisar multiwarna mempunyai bulu warna – warni dengan bulu leher, bulu pelana, dan bulu hias berwarna merah menyala.
3.   Ayam bekisar Kangean (Madura), dibentuk dari induk betina berbulu satu macam misalnya hitam, merah, putih, kuning, dan abu – abu.
4.      Ayam bekisar Hitam (Parakan, Temanggung), perkawinan silang dengan ayam kedu Hitam betina atau cemani. Bentuk tubuh tinggi, besar, tegap dan berbulu hitam
Ayam Hutan Hijau (Gallus varius) hidup berkelompok (2-7 ekor).
Pada siang hari mereka mencari makan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.
Ayam Hutan Hijau tidur di dahan-dahan pohon dengan ketinggian 1-4 meter.
Saat berbiak Ayam Hutan Hijau membuat sarang di atas tanah berlapis rumput diantara semak atau rumput tinggi.
Dalam sekali berbiak Ayam ini menghasilkan 5-10 butir telur berwarna keputih-putihan.
Yang khas dari Ayam Hutan Hijau adalah kemampuan terbangnya.
Berbeda dengan Ayam Hutan Merah, Ayam Hutan Hijau mampu terbang vertikal setinggi 7 meter dan terbang horisontal (lurus) hingga radius beberapa ratus meter.
Ayam Hutan Hijau jantan pun memiliki suara kokok yang khas.
Suara kokoknya nyaring dan sengau Mula-mula bersuara cek-kreh. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin
Diikuti dengan bunyi cek-ki kreh, 10 – 15 kali, dengan jeda waktu beberapa detik, semakin lama semakin panjang jedanya.
Sedangkan ayam betina berkotek mirip ayam kampung dengan suara lebih kecil dan nyaring.
Ayam Hutan Hijau (Green Junglefowl) menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai hingga ketinggian 3.000 meter dpl.
Nenek moyang ayam bekisar ini merupakan burung endemik Indonesia yang tersebar terbatas di Jawa, Madura, Bali, dan pulau-pulau di Nusa Tenggara.
Populasi Ayam Hutan Hijau (Gallus varius) belum diketahui dengan pasti namun diperkirakan masih banyak tersebar di beberapa daerah.
Oleh sebab itu IUCN Redlistmenganggap populasinya masih aman sehingga memasukkan Ayam Hutan Hijau dalam status konservasi Least Concern (Resiko Rendah) sejak 1988.
Di Indonesia, Ayam yang disebut Green Javanese Junglefowl juga tidak termasuk salah satu satwa yang dilindungi.
Namun bukan berarti Ayam Hutan Hijau (Green Junglefowl) aman dari ancaman kepunahan. Beberapa pihak menilai populasi semakin langka.
Hal ini terkait dengan makin menurunnya luas hutan di Jawa dan aktifitas perburuan liar yang dilakukan manusia.
Selain itu ayam ini termasuk salah satu unggas yang sangat rentan dan mudah mengalami stress maupun mati, berbeda dengan ayam kampung atau buras lainnya.
Sehingga populasi ayam tersebut semakin berkurang dari waktu ke waktu.
Tidak heran jika sampai saat ini banyak pihak yang berlomba untuk mencoba mencari persilangan genetic ayam bekisar yang terbaik. 
Karena beberapa faktor penghambat tersebut, sampai sekarang keberadaan ayam bekisar masih bisa di bilang langka.
Untuk menanggulangi masalah kelangkaan ini, banyak orang yang mencoba menangkarkan ayam bekisar tersebut
Dengan cara mengawinkan silang kemudian dengan mengeramkan telur ayam bekisar tersebut pada ayam betina kampung atau ayam buras.
Begitu telur menetas langsung dipisahkan dengan induknya.
Dengan begitu populasi ayam bekisar akan berkembang lebih cepat. 

C.  Cara Beternak Ayam Bekisar
Pemanfaatan ayam hutan untuk kepentingan pembentukan ayam Bekisar sebenarnya merupakan faktor pendorong bagi pelestarian spesies ayam hutan
Karena ayam hutan hasil penangkaranlah yang lebih baik, mudah serta mempunyai peluang besar berhasil untuk dipergunakan dalam pembentukan ayam Bekisar.
Motivasi para peternak pembentuk ayam Bekisar perlu juga diarahkan untuk melakukan penangkaran ayam hutan agar pemanfaatannya dapat tetap terus lestari.
Peran serta dan partisipasi berbagai pihak dalam pelestarian in situ dan ex situ ayam hutan perlu terus didorong agar upaya pelestarian dapat berjalan dengan baik.
Kunci utama dalam beternak ayam adalah niat yang kuat.
Karena memang beternak ayam membutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang luas.
Anda juga dituntut untuk berwawasan luas mengenai tata cara beternak ayam.
Jangan sampai ketika memulai ternak ayam, Anda merasa bingung dan tidak mengetahui cara-cara dasar peternakan yang baik
Sehingga ayam yang Anda pelihara tidak optimal bahkan bisa mati satu persatu.
Oleh karena itu, mulai belajarlah mengenai teknis beternak ayam hutan dengan baik sehingga dapat meminimalisir kegagalan
Beberapa cara untuk beternak ayam hutan :
1. Biarkan Ayam Beradaptasi
Hal pertama kali yang Anda harus lakukan ketika ingin ternak ayam hutan adalah membiarkan ayam tersebut beradaptasi dengan lingkungannya yang baru.
Biasanya pada masa adaptasi ayam hutan cenderung stress.
Biasakan dengan tidak terlalu sering memegang ayam dengan tangan kecuali pada saat makan. Karena hal tersebut mudah sekali membuat ayam menjadi stress dan jika dibiarkan lama-lama ayam tersebut akan mati.
2. Membuat Kandang Ayam yang Sesuai
Kandang merupakan sarana yang penting untuk ternak ayam, karena kandang adalah salah satu tempat tinggal untuk ayam.
Jika Anda ingin ternak ayam, sangat penting untuk membuatkan kandang yang nyaman bagi ayam.
Jenis kandang untuk ternak ayam hutan harus berbeda dengan jenis kandang ayam pada umumnya.
Kandang ayam bisa dibuat dengan menggunakan kawat atau bambu yang kokoh.
Ukuran kandang untuk ayam hutan harus dibuat lebih tinggi dan besar daripada ukuran kandang ayam kampung.
Letak kandang ayam juga sebaiknya dijauhkan dari tempat tinggal termasuk rumah Anda.
Hal ini untuk meminimalis persebaran penyakit dari unggas ke manusia atau sebaliknya.
Anda juga harus meletakkan kandang ayam menghadap ke arah cahaya terbit agar kandang dapat memperoleh sinar matahari.
3. Beri Makanan yang Bergizi
Cara ternak ayam hutan selanjutnya adalah Ayam Hutan yang dipelihara harus diberi makanan sesuai dengan habitat aslinya untuk pertama kali.
Setelah terbiasa, pelan-pelan Anda bisa mengganti makanan ayam hutan tersebut sesuai dengan kebutuhan.
Anda bisa memberikan makanan berupa biji-bijian dan kacang-kacangan.
Untuk ayam hutan yang baru dipelihara atau dijinakkan Anda harus menebar makanan ke tanah dahulu, karena ia belum terbiasa untuk makan dengan tempat makan di kandang.
Selain biji-bijian, Anda bisa memberi makan ayam hutan dengan makanan hewani seperti jangkrik, cacing, serangga, dan daging yang dicacah lembut.
Anda juga bisa memberinya dengan sayuran, buah-buahan dan rerumputan.
Sedangkan untuk makan buatan hanya diberikan pada saat adaptasi saja.
Berikut contoh dosis pemberian makanan campuran bagi ayam hutan yang masih kecil :
a. Usia 0-7 hari : 7 gram/hari/ekor
b. Usia 8-14 hari : 19 gram/hari/ekor
c. Usia 15-21 hari : 34 gram/hari/ekor
d. Usia 22-28 hari : 47 gram/hari/ekor
e. Usia 29-35 hari : 58 gram/hari/ekor
f. Usia 36-42 hari : 66 gram/hari/ekor
g. Usia 43-49 hari : 72 gram/hari/ekor
h. Usia 50-56 hari : 74 gram/hari/ekor
4. Menjaga Kebersihan Kandang
Tempat tinggal yang bersih adalah kenyamanan bagi tuan rumahnya.
Hal tersebut sama dengan kebersihan kandang bagi para ayam.
Salah satu hal yang harus diperhatikan dalam ternak ayam hutan adalah memelihara kebersihan kandang.
Kandang yang bersih berdampak pada keadaan ayam.
Bila kandang tidak dibersihkan, ada kemungkinan besar menjadi sumber penyakit.
Pembersihan kandang ayam bisa dilakukan 2 kali dalam seminggu.
Selain itu, penyemprotan kandang ayam dengan desinfektan juga diperlukan
Guna menghindari serangan virus dan mencegah bau yang tidak enak dari kandang.
5. Memandikan Ayam
Hal yang tidak kalah penting dalam ternak ayam hutan adalah memandikannya.
Ayam harus dimandikan secara rutin guna mencegah menempelnya kutu.
Namun memandikan ayam cukup hanya sekali dalam seminggu.
Dalam memandikan, ayam hutan hanya perlu disemprot dan jangan dipegang.
6. Memberikan Obat Anti Kutu
Kutu merupakan virus yang mudah sekali menempel dengan bulu.
Jika Anda memelihara ayam, pastikan ayam Anda terbebas dari serangan kutu karena biasanya jika ayam sudah terkena kutu maka akan mudah sekali sakit.
Untuk menghindari serangan kutu, cukup diberikan obat anti kutu sekali dalam seminggu.
Yang sering terjadi, banyak para peternak ayam yang kurang memperhatikan hal ini
Akibatnya banyak ayam yang bulunya terkena serangan kutu.
7. Pemberian Vaksin
Pemberian vaksin merupakan hal yang benar-benar harus diperhatikan dalam ternak ayam hutan.
Seorang peternak ayam, dituntut untuk mengerti tentang bagaimana pemberian vaksin terhadap ayam-ayam mereka.
Ayam hutan biasanya sering terkena penyakit berak berdarah dan sakit snot.
8. Pemberian Vitamin
Pemberian vitamin ketika ternak ayam hutan sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangan ayam yang Anda pelihara.
Pemberian vitamin untuk ayam hutan dapat diberikan secara berkala.
Bisa di makanan ataupun dalam bentuk minuman.
Untuk menambah nafsu makan ayam, Anda bisa memberinya perasahan jahe, temulawak dan kencur.
Hal ini juga bermanfaat untuk menghindari sakit pada ayam peliharaan karena pengaruh cuaca yang ekstrim.

Tips Merawat Ayam Bekisar
Perawatan Ayam Bekisar membutuhkan kejelian, jeli memberi dan meramu pakannya, juga harus ketat melaukan pengawasan supaya bekisar tidak sakit dan rajin berkokok. Kuncinya menurut pakar di antaranya ada pada pakan serta pengawasan.
1)   Jumlah Pakan
Perkembangan bekisar terutama suaranya sudah mulai kelihatan jelas pada umur 8 bulan.
Untuk lebih meningkatkan mutu suaranya, mulai saat ini jenis pakannya harus diubah menjadi campuran beras merah 70%, ketan hitam 10%, dan jagung giling 20%.
Sebelum diberikan, campuran ini perlu dikukus dulu supaya steril.
Setelah dikukus pakan diberi campuran 1 butir telur ayam, 1 sendok madu dan 1 sendok minyak ikan, untuk menambah protein
Lalu dijemur sebentar agar tahan disimpan selama 1 bulan.
Jatah makanan ayam bekisar setiap harinya tidak terlalu banyak
Paling-paling hanya seperempat bagian makanan ayam kampung.
Kalau diberikan lebih dari semestinya, dikhawatirkan bekisar akan kegemukan.
Akibatnya mutu suaranya berkurang.
 Tapi, kalau sayuran seperti kangkung, taoge, diberikan berlebih justru semakin bagus.
Sayuran ini diberikan 2 hari sekali bergantian dengan buah-buahan seperti pepaya dan pisang.
Untuk tidak menghilangkan kebiasaan makanan ayam hutan di hutan
Maka sebaiknya juga dihidangkan pakan alami seperti ulat hongkong atau jangkrik sebagai ekstra voeding.
Pakan berprotein tinggi ini cukup diberikan seperlunya saja. 
Ada satu kebiasaan lagi yang di terapkan yaitu memberikan “grit”, yaitu kulit kerang dalam bentuk granular.
Pakan yang banyak mengandung kalsium ini diberikan 5% dari pakan utama.
2)   Pengawasan
Pengawasan sangat penting untuk meneliti perkembangan bekisar.
Kalau warna kotoran kuning kehijauan (mengandung kapur) atau mencret berarti ada yang tidak beres. Lalu kita beralih ke wajah ayam. Bagi ayam sehat jenggernya akan berwarna merah segar dan tegak. Kalau sebaliknya berarti ia kurang sehat.
Juga matanya, ayam yang kurang sehat matanya akan redup tidak bersinar.
Dan terakhir yang perlu dilihat adalah pakannya. Jika pakan kemarin tidak bersisa berarti ia masih sehat. Namun jika sebaliknya, maka ayam itu menunjukkan gejala sakit.
Ketidak beresan ini bisa dicegah dengan memberikan vitamin B kompeks dan antiobiotik “tetrachloor” sehari 2 kali pagi dan sore selama 3 hari.
Menurut pakar yang memiliki sekitar 80-an ekor bekisar, tindakan ini selalu menyelamatkan bekisarnya. Bekisar akan kembali normal pada hari ke 2, dan gejala sakit itu akan hilang sama sekali pada hari ke 3.
Bekisar mempunyai tabiat agresif, curiga dan was-was, maka sebaiknya sejak kecil, pada malam hari sangkarnya perlu diberi kerudung kain.
Tapi kalau sangkarnya kelewat besar, bisa ditutup dengan krei dari bambu, supaya dia tenang di tempatnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar