Jalak Bali (Hewan Khas Bali) : Klasifikasi Ilmiah, Ciri-Ciri, dan Cara Budidayanya


Jalak Bali atau Leucopsar rothschildi, di daerah asalnya pulau Bali disebut sebagai Curik.
Burung ini memiliki ukuran tubuh agak besar, panjang tubuh dari kepala sampai ekor bisa mencapai 25 cm.
Burung Jalak Bali ini hanya terdapat di pulau Bali (endemik).
Dahulunya pernah ditemukan di pulau Lombok, tetapi itu diduga burung Jalak Bali yang bermigrasi sementara ke pulau Lombok
Dan saat ini di pulau Lombok tidak pernah lagi ditemukan burung ini, jadi burung Jalak Bali ini hanya ada di pulau Bali.
Burung Jalak Bali ini memiliki ciri khusus, warna putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayap berwarna hitam.
Pada bagian pipi tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan.
Burung jantan dan betina, sekilas hampir tidak ada bedanya, hanya saja dapat dibedakan dari ukuran tubuh jantan biasanya lebih besar dari betina, serta jambul di bagian kepala lebih tegak dari burung betina.
Burung Jalak Bali ini adalah burung yang memiliki karakter riang, suka berkicau bahkan menari di saat sedang bermain air di kolam-kolam kecil. Sehingga membuat jatuh cinta bagi siapa saja yang melihatnya.

Jalak Bali ditemukan pertama kali oleh Dr. Baron Stressmann seorang ahli burung berkebangsaan Inggeris pada tanggal 24 Maret 1911.
Nama ilmiah Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dinamakan sesuai dengan nama Walter Rothschild pakar hewan berkebangsaan Inggris yang pertama kali mendiskripsikan spesies pada tahun 1912.
Dalam konvensi perdagangan internasional bagi jasad liar CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of  Wild Fauna and Flora) Jalak Bali terdaftar pada Apendix I, yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan.
Sedang IUCN (International Union for Conservation of Natur and Natural Resources) memasukkan Jalak Bali dalam kategori “kritis” (Critically Endangered) yang merupakan status konservasi yang diberikan terhadap spesies yang memiliki risiko besar akan menjadi punah di alam liar atau akan sepenuhnya punah dalam waktu dekat.

Untungnya keadaan kritis Jalak Bali ini mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia, yaitu dengan ditetapkannya burung Jalak Bali ini sebagai burung yang dilindungi oleh undang-undang.
Berdasarkan surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 421/Kpts/Um/8/1970 tanggal 26 Agustus 1970 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa
Jalak Bali merupakan satwa yang dilarang diperdagangkan, kecuali dari hasil penangkaran dari generasi ketiga (indukan bukan dari alam).
Hal lain yang menggembirakan adalah dengan mulai maraknya penangkaran burung Jalak Bali ini di pulau Jawa oleh para penangkar burung.
Dengan begitu kehidupan Jalak Bali ini dapat dipertahankan dan dihindari dari kepunahan.

A.  Klasifikasi Ilmiah Jalak Bali
Klasifikasi ilmiah jalak bali sebagi berikut ini :
Kerajaan    : Animalia
Filum          : Chordata
Kelas          : Aves
Ordo           : Passeriformes
Famili         : Sturnidae
Genus        : Leucopsar
Spesies     : Leucopsar rothschildi


B.  Ciri-Ciri Jalak Bali
Jalak bali mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1)   Morfologi
Bulunya 90% berwarna putih bersih, pada ujung bulu sayap dan bulu ekornya ditemukan warna hitam lebarnya 25 mm.
Pelupuk matanya berwarna biru tua mengelilingi bola mata, paruh runcing dengan panjang 2–3 cm, di bagian ujungnya berwarna kuning kecoklatan, rahangnya berwarna abu-abu kehitaman.
Burung jantan bentuknya lebih indah, mempunyai jambul di kepalanya dengan beberapa helai bulu berwarna putih bersih.
Panjang dari ujung paruh sampai ujung ekor kurang lebih 25 cm, panjang paruh 3 cm, panjang kepala 5 cm, panjang leher 2 cm, panjang sayap 13 cm, panjang ekor 6 cm, dengan warna kehitaman di ujungnya sepanjang 2 cm dan panjang kaki (tidak termasuk paha) 4 cm.
Berat badan 107,75 gram, jumlah bulu sayap 11-12 helai dan jumlah bulu ekor 17-18 helai.

2)   Perbedaan Jantan dengan Betina
Kepala jantan lebih besar, berbentuk panjang. Sedangkan kepala betina lebih kecil dan cenderung bulat.
Jambul jantan lebih panjang, sedangkan jambul betina relatif lebih pendek.
Ukuran tubuh jantan lebih besar dan gagah, sedangkan betina tampak lebih ramping.

3)   Reproduksi
Jalak bali merupakan satwa monogamus, yaitu hanya memiliki satu pasangan dalam satu musim kawin
Sehingga sex rasionya adalah 1:1 dan umur mulai proses perkawinan 7-9 bulan dengan jumlah telur maksimum sebanyak 3 butir.
Menurut Thompson dan Brown (2001), jalak bali melakukan proses perkawinan di alam pada umur dua tahun serta masa produktif jalak bali dalam menghasilkan keturunan untuk jantan sampai umur 17 tahun dan untuk betina sampai umur 12 tahun.
Perkawinan jalak bali di dalam penangkaran terjadi sepanjang tahun. Biasanya jalak bali yang telah bertelur dan menetaskan anaknya selama 14 hari akan bertelur kembali setelah anaknya berusia sekitar 4-5 minggu atau jarak waktu bertelur sekitar dua bulan.

4)   Habitat dan Penyebaran
Jalak bali menyukai habitat hutan mangrove, hutan rawa, hutan musim dataran rendah dan daerah savana.
Penyebaran jalak bali secara alami hanya terdapat di Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Selain itu, penyebaran jalak bali terdapat di daerah Tegal Bunder, Lampu Merah, Batu Gondang, Prapat Agung, Batu Licin, dan Teluk Brumbun.

5)   Populasi
Populasi jalak bali di habitat alaminya yaitu di Taman Nasional Bali Barat selalu mengalami penurunan.
Diketahui pada tahun 1984 jumlah jalak bali diperkirakan 125-180 ekor. Pada tahun 1988 jumlah jalak bali sekitar 37 ekor dan 12-18 ekor pada tahun 1990.
Pada tahun 1998 didapatkan 10-14 ekor serta diperkirakan semuanya adalah jantan.
Data terakhir yang dikumpulkan oleh PEH Bali Barat pada tahun 2006 hanya ditemukan 6 ekor

6)   Aktifitas Harian
Di habitat alaminya jalak bali termasuk jenis burung yang suka terbang secara berombongan
Pada musim kawin yang berlangsung antara bulan September-Desember mereka terbang secara berpasangan sambil mencari makan.
Satwa ini membuat sarang di dalam lubang- lubang pohon pada ketinggian 2,5-7 m dari tanah.
Jalak bali mempunyai aktivitas harian yang sama, yaitu setelah matahari terbit yaitu pada pukul 05.00-05.30 WITA mereka mulai terbang secara berkelompok menuju tempat makan/minum
Dan mereka kembali menuju tempat tidur sebelum matahari terbenam yaitu pada pukul 14.30 WITA.
Kegiatan harian ini akan berhenti sama sekali pada pukul 18.45 WITA. Radius pergerakan hariannya bervariasi dari 3-10 km tergantung pada keadaan lingkungannya. 
Meskipun di alam jalak bali merupakan burung yang paling liar namun aktivitas yang dilakukannya selalu diiringi komunikasi suara antar pasangan- pasangan yang ada.
Jalak bali merupakan burung yang menyukai kebersihan.
Satwa ini suka bermain air untuk membersihkan badannya.
Setelah itu, mereka mengeringkan tubuhnya dengan cara mengigit-gigit bulunya satu persatu.
Pengeringan bulu ini dilakukan dengan berjemur sinar matahari dan bertengger di ranting-ranting pohon.
Bulu-bulunya akan mengering dan kembali mengkilap bahkan semakin bercahaya.

C.  Cara Budidaya Jalak Bali
Adapun cara budidaya jalak bali, sebagai berikut :
1)   Pemilihan Indukan Jalak Bali
Indukan jalak bali yang akan dibudidayakan dipilih indukan yang sehat :
a)   Postur tubuh tanpa cacat dengan usia minimal dua tahun
b)   Kondisi bulu dan tubuh burung baik, memiliki warna putih bersih dan cemerlang
c)   Warna biru segar pada bagian muka serta memiliki paruh yang kokoh dan tebal.
Jika sudah memenuhi syarat tersebut berarti sudah mengindikasi bahwa jenis burung tersebut sehat
Sebelum dimasukkan ke dalam satu kandang, lebih baik jika indukan jantan dan betinaditempatkan pada kandang yang terpisah.
Tujuannya yaitu agar burung adaptasi dan masa pengenalan terlebih dahulu.

2)   Persiapan Kandang Ternak Jalak Bali
Agar dapat tumbuh dengan cukup baik, burung jalak ini perlu memiliki ruang pergerakan yang cukup besar.
Sehingga, ukuran ideal sebuah kandang untuk ternak jalak bali yaitu sekitar 80 cm x 100 cm x 80 cm.
Jika memungkinkan buatlah kandang dari kawat strimin dengan ukuran yang kecil atau sedang.
Berikan penutup dari asbes atau enternit dengan sedikit area terbuka sebagai tempat masuknya cahaya matahari.
Jika kandang atau sangkar burung sudah selesai dibuat, dalam kandang diberikan beberapa aksesoris dan detail yang dapat menunjang pertumbuhan burung.
Dalam kandang diberi ranting atau tanaman perdu sebagai tempat bertengger burung.
Pada ranting atau bagian atas kandang diberi kotak kayu dengan tambahan jerami atau sarang burung di dalamnya sebagai tempat bertelur. Pastikan sarang tersebut kering. Usahakan kandang dibuat pada area yang sepi.
Burung jenis ini tidak menyukai tempat yang gaduh, jika terlalu berisik, burung nantinya akan stres dan susah bertelur.
Jika ingin membuat tempat mandi burung Jalak Bali agar bisa mandi dengan bebas.
Bisa menggunakan wadah berukuran 20 sampai 25cm dengan tinggi kurang lebih 8-9 cm. 
Jangan lupa untuk mengganti tempat mandi jika sudah selesai mandi.

3)   Pemberian Pakan Jalak Bali
Pastikan pakan yang diberikan pada jalak bali mengandung gizi dan bernutrisi tinggi.
Berikan pula tambahan pekan serangga seperti jangkrik dan ulat.
Untuk menghindari telur yang dihasilkan telur infertile, maka berikan pula obat fertility.
Untuk anakan yang masih kecil, cara pemberian pakan dilakukan dengan cara disapih dengan bubur buatan dari voer dan madu dan ditambahkan air panas.
Tunggu hingga dingin sebelum diberikan pada anakan.
Pemberian pakan pada anakan ini dilakukan tiga kali sehari selama kurang lebih tiga bulan hingga anakan jalak bali cukup mampu untuk makan sendiri.

4)   Perawatan Jalak Bali
Lakukan penjemuran pada burung jalak bali setiap hari mulai pukul 8 sampai 10 pagi.
Bersihkan burung dan kandang secara berkala sehingga tidak ada kotoran atau pakan yang terlanjur membusuk.
Kebersihan penting agar burung terhindar dari virus atau bakteri yang mungkin akan menggangu kondisi tubuhnya.
Lakukan pergantian atau pembersihan tempat makan dan minum agar tidak ditumbuhi lumut.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar